PELAMIN INDAH NAS GREAT IDEA - KLIK SINI


Sejarah Asal Lagu Negaraku (Origin of Negaraku) - Terang Bulan vs Mamula Moon? : Syokkahwin.com

Sejarah Asal Lagu Negaraku (Origin of Negaraku) - Terang Bulan vs Mamula Moon?

Posted on September 2, 2007
Filed Under Malaysian Life!

It has been widely accepted that our Malaysian National Anthem originates from the song TERANG BULAN which used to be The State of Perak’s official anthem. The song was said to be composed by a french, Pierre Jean de Beranger (1780-1857). It was later brought back to Perak by Raja Abdullah and the lyrics were changed and the song was renamed “Allah Lanjutkan Usia Sultan“. Another version of the story goes like this: Sultan Idris Murshidul’adzam Shah (Marhum Rahmatullah) was the Sultan of Perak from 1887 till 1916. During the installation of English Monarch, King Edward VII in 1901, Sultan Idris was in England as the representative to the Malay Sultans for the FEDERATED MALAY STATES. But when His Highness reached the Port of Southampton, Protocol Officer from Colonial Office went to see him and asked about the State Anthem for Perak. Since Perak at that time had none, Raja Harun bin Sultan Abdullah, Confidential Secretary to the Sultan nevertheless didn’t want to tell the Protocol Officer of the actual situation and not wanting to look inferior and stupid, he said that they did have it but it’s just that he didn’t bring the note. He then whistled the melody of the song to him. Then for the first time, Perak State Anthem was heard. It’s first time was in a foreign land. Then came MAMULA MOON. Mamula Moon was composed in year 1947 by Felix Mendelssohn and Terang Bulan was played much earlier in 1887 during the installation of King Edward VII. So obviously MAMULA MOON was a “CIPLAK!”..Anyhow, listen now to MAMULA MOON below:

YouTube Preview Image

[VICTORIA BECKHAM - COMING TO AMERICA VIDEO CLIPS - CLICK HERE]

MAMULA MOON VS TERANG BULAN

LAGU MAMULA MOON FROM HAWAIIAN TUNE?

[GALERI LISA SURIHANI - CLICK HERE]

Other Hot Posts


SHARETHIS


FREE-ADVERTISEMENT

All comments are the 100% responsibilities of the commenters. In case of any doubt, kindly refer to DISCLAIMER.



Baca sahaja? Luahkan pendapat anda supaya mereka dengar!!

13 Responses to “Sejarah Asal Lagu Negaraku (Origin of Negaraku) - Terang Bulan vs Mamula Moon?”

  1. pop-iah on September 2nd, 2007 1:28 pm

    malunya aku…bila dengar lagu tuuu..kite nih ciplak orang punya ke?malu malu malu…

  2. santan on September 3rd, 2007 12:54 pm

    Dulu Radioa ERA pernah keluarkan kenyataan ni. Pas tu semua orang marah dan mereka hentikan serta merta mengungkit isu ini.

    Tak tahu pulak la ngan blog ni..

  3. oot on September 5th, 2007 10:49 pm

    hai””’ malu sangatla aku jadi rakyat malas YA, nak cipta lagupun tak mampu. memengpun kita orang semua dah jadi plagiat, lagu dari negara orang lain di kata lagu buatan anak bangsa. M A L U.
    Malas Ya TRULY MALING ASIA

  4. Akak Sooon... on September 7th, 2007 11:47 am

    [quote comment="21260"]hai””’ malu sangatla aku jadi rakyat malas YA, nak cipta lagupun tak mampu. memengpun kita orang semua dah jadi plagiat, lagu dari negara orang lain di kata lagu buatan anak bangsa. M A L U.
    Malas Ya TRULY MALING ASIA[/quote]

    [quote comment="20502"]malunya aku…bila dengar lagu tuuu..kite nih ciplak orang punya ke?malu malu malu…[/quote]

    Kalau dah malu, berambus la pergi migrate kat negara lain. Hidup tu asyik nak complain dan mengata aje. Sumbangan nak memperbaiki kelemahan tak ada langsung. Dasar sialan yang tak pernah duduk di negara luar…

  5. zett on September 8th, 2007 4:55 am

    mr author, ini cerita lama lah dear. and anyway, who bothers about from where the song originates from. what matters now is that the song is our national song now, and the lyrics are important to the people.

    better stories pls

  6. daniella kyrana on October 9th, 2007 4:03 pm

    [quote comment="20502"]malunya aku…bila dengar lagu tuuu..kite nih ciplak orang punya ke?malu malu malu…[/quote]
    [quote comment="21260"]hai””’ malu sangatla aku jadi rakyat malas YA, nak cipta lagupun tak mampu. memengpun kita orang semua dah jadi plagiat, lagu dari negara orang lain di kata lagu buatan anak bangsa. M A L U.
    Malas Ya TRULY MALING ASIA[/quote]

    blah la woii klu maluuu……..AKU ANAK MALAYSIA,AKU BANGGA DILAHIRKAN DI BUMI MALAYA,SEANTERO DUNIA TURUT TERUJA,AKU MAHU PERTAHANKAN BANGSA,UNTUK NEGARA YANG TERCINTA…

  7. Original KP on October 10th, 2007 10:59 pm

    Sapa malu pasal lagu negaraku ? Itu org mesti TYPE PTI. Sapa nak kritik ini Malaysia ? Ini malaysia lah, bukan Cinasia atau Indiasia. Kalu masih tak puas hati, pigi sana negara luar, rasanya baru kepala hotak kamu sedar. Kenapa ? kalu pigi Amerika kamu dapat spesial treatment ka ? Ciplak ? Kamu sendiri pun raja ciplak, lagu Negaraku pun kamu bising. Kalau pakai brg ciplak tak tau malu plak…

  8. wawamimi on November 20th, 2007 9:22 pm

    woi…boleh blah laa.. malu konon..kalu malu jgn duk kat malaysia, pegi berambus le tempat lain..

  9. suyas on December 18th, 2007 6:59 am

    Lagu marmoola Moon menyerlah tahun 1947 namun lagu terang boelan sudha terkenal di masa 1930-an

    ‘Terang Bulan’ di Malaysia

    Akhir-akhir ini terjadi ‘konflik budaya’ antara Indonesia dan Malaysia akibat digunakannya lagu ‘Rasa Sayange’, dalam promosi pariwisata Malaysia. Lagu itu diklaim Malaysia sebagai lagu negara tersebut. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, mengatakan pihaknya menemukan beberapa bukti yang menunjukkan lagu ‘Rasa Sayange’ milik Indonesia, yaitu pada rekaman milik Lokananta dalam bentuk piringan hitam. Presiden Soekarno saat Asian Games di Jakarta 15 Agustus 1962, memberikan 100 keping piringan hitam lagu tersebut kepada peserta Asian Games IV.

    Mantan ketua Sinematek Indonesia, Misbach Yusa Biran, yang juga seorang sutradara kepada Republika menyatakan ‘konflik budaya’ ini perlu ‘dipelihara’ karena membuat orang Indonesia menyadari kekayaan budayanya. Menurut dia, kejadian seperti ini bukan baru sekarang terjadi. Malaysia juga pernah melakukan hal yang sama terhadap lagu ‘Terang Bulan’. Misbach mengungkapkan bahwa lagu ‘Terang Bulan’ kini sudah menjadi lagu kebangsaan Malaysia dengan ‘Negaraku’.

    Lagu tersebut sebelumnya termuat dalam film ‘Terang Bulan’ (1937-38) yang ditangani oleh Albert Balink dan wartawan Indonesia, Saeroen. Ini adalah film Indonesia pertama yang suaranya ’sempurna’ dan merupakan film pertama yang meledak di seluruh nusantara, bahkan sampai Singapura dan Strait Malaka (nama Malaysia sebelum dimerdekakan oleh Inggris).

    Film yang dimainkan oleh Roekian dan Rd Mochtar serta membawakan sejumlah lagu karangan Ismail Marzuki itu sangat berkesan di Malaya, hingga mereka juga membuat ‘Terang Boelan’ di Malaya. Demikian pula lagu ‘Terang Bulan’ di kalangan rakyat Malaya dinyanyikan oleh semua kalangan hingga mereka akhirnya mengira bahwa lagu tersebut adalah lagu rakyat (folksong) Malaya. Selanjutnya, mereka jadikan lagu tersebut sebagai lagu kebangsaan ketika tiba-tiba Inggris memberi kemerdekaan (bukan direbut dengan revolusi seperti kemerdekaan Indonesia ) kepada Malaysia.

    Klaim terhadap lagu ‘Terang Bulan’ ini tidak menimbulkan keberatan dari Indonesia. Bahkan, Badan Sensor Film (BSF) mengorbankan film Panah Mas yang disutradai Wim Umboh berjudul ‘Terang Bulan’ (1955) berdasarkan cerita seniman SM Ardan. Film itu menggunakan theme song ‘Terang Bulan’. Untuk menghormati lagu kebangsaan Malaysia itu, BSF telah melarang film ini beredar, karena selesainya produksi film tersebut hampir bersamaan dengan kemerdekaan Malaya (waktu itu belum bernama Malaysia).

    Menurut Misbach, pada 1997 ada pertemuan para pengarsip film di Jakarta. Dia yang waktu itu sebagai ketua Sinematek Indonesia, ketika menyampaikan makalah tentang sejarah film Indonesa menyinggung mengenai lagu ‘Terang Bulan’. ”Kepala Perpustakaan Nasional Malaysia, seorang ibu yang saya lupa mananya, langsung menyatakan keberatan bahwa Lagu Kebangsaan Malaysia berasal dari film Indonesia,” ujar Misbach.

    Menurut dia, lagu kebangsaan Malaysia itu diambil dari piringan hitam produksi Nederland, yang dia lupa nama perusahaannya dan tahun pembuatannya. Almarhum Asrul Sani pernah mengungkapkan lagu ‘Terang Bulan’ itu pernah didengarnya pada sebuah film Belanda. Jadi, kata Misbach, piringan hitam tersebut kemungkinan besar merupakan rekaman dari film tersebut.

    ”Maka saya cek pada kolega saya, Donaldson di Den Haag, peneliti film Belanda. Ternyata Donaldson tidak bisa memberikan jawaban mengenai adanya lagu ‘Terang Bulan’ dalam film Belanda,” tutur dia. Munculnya lagu keroncong dalam film Belanda agak sulit dibayangkan. Menurut Misbach, lagu ‘Terang Bulan’ adalah jenis musik yang kita sebut Stambul Dua yang berasal dari lagu pelaut Portugis. Lagu tersebut sejenis dengan lagu ‘Sapu Lidi’ dan ‘Keroncong Moritsko’.

    ”Kemungkinan yang kuat adalah bahwa lagu ‘Terang Bulan’ itu adalah lagu ciptaan Ismail Marzuki dan mungkin berbahasa Belanda, yang ketika waktu pertama direkam oleh Live Java menggunakan bahasa Belanda. Karena sejak pertengahan 1930-an ada keinginan kuat dari musisi keroncong kita menjadikan lagu keroncong bisa diterima oleh kalangan menengah atas,” tutur Misbach lagi.

    Caranya, menurut dia, para pegiat musik keroncong ini menggunakan teks lagu bahasa Belanda. Sebelumnya, kelas menengah menganggap keroncong sebagai musik kampungan. Ismail Marzuki beberapa kali menciptakan lagu berbahasa Belanda seperti Als die Orchidein Bloeien, yang di zaman pendudukan Jepang diubah teknya menjadi ‘Bila Bunga Angrek Mulai Timbul’.

    Di Indonesia lagu ‘Terang Bulan’ juga sangat terkenal melalui film ‘Terang Boelan’. Lagunya enak, mudah diingat, dan teksnya lucu. Terang Bulan, terang di kali. Buaya timbul, disangka mati. Jangan percaya mulut lelaki. Berani sumpah, tapi takut mati. Begitu kurang lebih bunyi salah satu alinea syair lagu tersebut.

    Hampir semua kalangan di Indonesia pada 1930-an mahir menyenandungkan lagu itu. Film ‘Terang Bolean’ memang sangat fenomenal dan melahirkan bintang idola Miss Roekiah, ibu penyanyi kenamaan Rachmat Kartolo. Model kebaya yang dipakai Roekiah dalam film segera menjadi mode kebaya para ibu masa itu. Jadi, besar kemungkinan lagu ‘Terang Bulan’ menjadi populer di Malaya adalah karena maraknya pemutaran film ‘Terang Boelan’. Ketika negeri itu menjadi negara merdeka, boleh jadi Malaysia sudah lupa pada film tersebut.

    Alangkah terpujinya jika Malaysia bisa meniru AS (AS) dalam mengakui keberadaan Patung Liberty. Seperti kita tahu, Patung Miss Liberty yang merupakan hadiah bangsa Prancis untuk Hari Kemerdekaan AS, dibuat oleh pemahat Prancis, Frederic Auguste Bartholdi. Itu diakui oleh AS. ”Sampai sekarang orang tetap mengakui itu adalah patung Liberty Amerika, salah satu kebangaan bangsa Amerika,” ujar Misbach.

    Malaysia kini juga tengah mengembangkan lagu-lagu keroncong dan gamelan terutama di negara bagian Johor yang disponsori oleh sultannya. Sultan di negara bagian tersebut memang sangat menggemari kedua jenis budaya Indonesia ini. Tapi sayangnya, kita sendiri kurang memperhatikannya. Siaran hiburan di televisi-televisi sangat jarang, bahkan hampir tidak lagi menampilkan kedua jenis lagu yang kini diminati Malaysia itu. alwi shahab

    http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=316203&kat_id=3

  10. wek on March 16th, 2009 8:34 pm

    wei!!xyah r nak mlu2 law kowang dengo lgu 2….wlupn lgu kowng rse adew yg ciplak,.,kowng ttp rkyt mlaysia beb!!!syukor r!!!kownag dpt mkn pown kt mlaysia jgk!!!pikir r!!!kowng dew otak!!!

  11. wek on March 16th, 2009 8:40 pm

    law kowang rse kowang mlu,,,,bek kowang dok kt indon kew,bangla kew,,lg bek kowang tau x??!!!lg snang kowng dok kt plestin snew lg bgos!!bior kowng sdor sndri!!!law kowang rsew kowang trllu bgos nk kutok2 lgu negare kowng sndri,kowng wt r sndri….

  12. waizuri on June 30th, 2009 1:32 pm

    salam… bersyukurlah dengan keamanan dan kemakmuran negara. jgn peduli hal2 lain. yg penting kita bahagia tinggal di bumi ‘lubuk emas’ ni…

  13. Mansour on September 5th, 2009 2:00 pm

    negeri perak - 1888
    terang bulan - 1920an
    mamula moon - 1940 an
    Negaraku - 1949..

    fikir sendiri

Leave a Reply